Dear Rekans,
Satu pendewasaan / kematangan dari perjalanan hidup ini adalah ketika kita bisa memetik pelajaran dan hikmahnya. Saya rasanya khok ingin berbagi pengalaman dari peristiwa ini. Awalnya ketika Saya dan rekans O&M Surabaya harus meluncur ke Jember dalam rangka membantu rekans O&M East Java di Jember untuk melaksanakan perbaikan kabel FO yang putus karena dampak pekerjaan pembangunan kabel FO milik satu Operator. 4 Hari dilokasi area PG Garahan masuk Gunung Kumitir dan area Glenmore masuk Banyuwangi. 2 Hari menginap di Kalibaru ( sudah masuk Banyuwangi ) dan 2 hari menginap di Jember.
Cerita ini bermula ketika saya menginap di Kalibaru. Cottage-nya memang ditata ala Eropa ( ndak ada petunjuk arah kiblat, Toilet ndak ada gayung maupun semprot air ) karena memang cottage ini banyak dipilih wisatawan Eropa khususnya Belanda. Maklum Glenmore adalah satu wilayah ( kecamatan ? ) yang masih banyak membawah kenangan orang-orang Belanda karena disini perkebunan milik orang-orang Belanda masih terpelihara. Pada saat yang sama banyak group-group wisatawan dari Belanda yang menginap di Cottage Kalibaru ini. Pada kesempatan makan pagi berkenalan saya dengan seorang Jawa yang ketika Th.1947 berumur 13 tahun dan meninggalkan Indonesia untuk bermukim dinegeri Belanda. Bapak tua ini masih gesit dan sehat hanya saja tidak bisa bahasa Indonesia, tetapi bisa bahasa Inggris little – little . Mulailah saya dialog sambil sedikit bertanya tentang masa lalunya ketika di Indonesia. Lahir di Glenmore dan pernah di Papua sebelum kemudian Papua diambil Soekarno, katanya. Pada saat ketika bicara tentang kesejahteraan, Beliau mulai merasa prihatin dengan kondisi penghasilan pekerja Indonesia bagaimana mungkin bisa berpenghasilan Rp 1,8 Juta untuk sebulan padahal kalau di Belanda seorang tukang batu / kayu penghasilan perjamnya 15 Euro dan apabila harus bekerja 8 jam seharinya nilai itu sama. Wauoh…….saya benar terkesima mendengar paparan Beliau ini, bagaimana mungkin sampai memikirkan hal itu dan memberikan perbandingannya.
Akhirnya saya kembali bekerja kekomunitas saya, saya perlihatkan gambar-gambar ini bisakah mereka dapatkan Rp 1,8 Juta untuk sebulan …? Mereka bekerja tanpa pamrih, tidak banyak menuntut, mengabdi dan nerimo.
Satu pendewasaan / kematangan dari perjalanan hidup ini adalah ketika kita bisa memetik pelajaran dan hikmahnya. Saya rasanya khok ingin berbagi pengalaman dari peristiwa ini. Awalnya ketika Saya dan rekans O&M Surabaya harus meluncur ke Jember dalam rangka membantu rekans O&M East Java di Jember untuk melaksanakan perbaikan kabel FO yang putus karena dampak pekerjaan pembangunan kabel FO milik satu Operator. 4 Hari dilokasi area PG Garahan masuk Gunung Kumitir dan area Glenmore masuk Banyuwangi. 2 Hari menginap di Kalibaru ( sudah masuk Banyuwangi ) dan 2 hari menginap di Jember.
Cerita ini bermula ketika saya menginap di Kalibaru. Cottage-nya memang ditata ala Eropa ( ndak ada petunjuk arah kiblat, Toilet ndak ada gayung maupun semprot air ) karena memang cottage ini banyak dipilih wisatawan Eropa khususnya Belanda. Maklum Glenmore adalah satu wilayah ( kecamatan ? ) yang masih banyak membawah kenangan orang-orang Belanda karena disini perkebunan milik orang-orang Belanda masih terpelihara. Pada saat yang sama banyak group-group wisatawan dari Belanda yang menginap di Cottage Kalibaru ini. Pada kesempatan makan pagi berkenalan saya dengan seorang Jawa yang ketika Th.1947 berumur 13 tahun dan meninggalkan Indonesia untuk bermukim dinegeri Belanda. Bapak tua ini masih gesit dan sehat hanya saja tidak bisa bahasa Indonesia, tetapi bisa bahasa Inggris little – little . Mulailah saya dialog sambil sedikit bertanya tentang masa lalunya ketika di Indonesia. Lahir di Glenmore dan pernah di Papua sebelum kemudian Papua diambil Soekarno, katanya. Pada saat ketika bicara tentang kesejahteraan, Beliau mulai merasa prihatin dengan kondisi penghasilan pekerja Indonesia bagaimana mungkin bisa berpenghasilan Rp 1,8 Juta untuk sebulan padahal kalau di Belanda seorang tukang batu / kayu penghasilan perjamnya 15 Euro dan apabila harus bekerja 8 jam seharinya nilai itu sama. Wauoh…….saya benar terkesima mendengar paparan Beliau ini, bagaimana mungkin sampai memikirkan hal itu dan memberikan perbandingannya.
Akhirnya saya kembali bekerja kekomunitas saya, saya perlihatkan gambar-gambar ini bisakah mereka dapatkan Rp 1,8 Juta untuk sebulan …? Mereka bekerja tanpa pamrih, tidak banyak menuntut, mengabdi dan nerimo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar