Minggu, 21 Juni 2009

Surabaya, 10 November 1945

Surabaya, 10 November 2008,

Tulisan ini pernah saya publikasikan melalui e-mail satu tahun yang lalu, saya cuplik dari berbagai sumber dan saya rangkum sesingkat mungkin untuk dibaca, dipahami dan dikenang. Yang perlu disuri tauladani dari peristiwa ini adalah semangatnya, bagaimana para pemuda dari segala lapisan / golongan / elemen masyarakat yang pada waktu itu di Kota Surabaya bersatu dan bahu membahu mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Setelah saya dan keluarga berkunjung ke Museum di Tugu Pahlawan Surabaya saya pastikan sendiri bagaimana suara orasi Bung Tomo merasuk sanubari dan bisa mempengaruhi semangat perjuangan arek-arek Suroboyo
“Menjadi catatan sejarah perang dunia bahwasanya seorang Jenderal tewas dalam pertempuran hanyalah terjadi di Kota Surabaya”

Tanggal 10 November merupakan salah satu dari hari bersejarah yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejak lebih dari setengah abad yang lalu, tanggal 10 November telah dinyatakan oleh bangsa kita sebagai Hari Pahlawan. Peringatan Hari Pahlawan merupakan momen penting bagi seluruh bangsa, bukan saja untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang demi memperjuangkan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, Tetapi juga merupakan momen yang sangat tepat untuk memupuk rasa kesadaran bangsa (Nasionalisme).

Secara historis, Hari Pahlawan juga dikenal dengan Peristiwa 10 November 1945. Karena pada saat itu terjadi perlawanan arek-arek Suroboyo terhadap tentara pendudukan Inggris yang diboncengi Belanda (NICA), peristiwa ketika kesabaran bangsa Indonesia berubah menjadi keberanian yang sangat luar biasa. Hanya dengan senjata seadanya (bambu runcing), laskar-laskar rakyat berhasil mengobarkan semangat “Merdeka atau Mati”.

Peristiwa 10 November ditandai dengan penurunan bendera Merah-Putih-Biru dan matinya Jenderal Malaby. Tidak digubrisnya ultimatum Sekutu untuk menyerahkan senjata, akhirnya pecahlah perang di jantung kota Surabaya, utamanya di sekitar Jembatan Merah. Lagu “Jembatan Merah” menjadi kenangan dan legenda perjuangan

Sekutu yang telah menjatuhkan bom di kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang akhirnya turun juga ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang. 15 September sekutu yang diwakili oleh Inggris mendarat di Jakarta dan 25 Oktober di Surabaya dengan 6.000 serdadu dari Divisi ke-23 dengan pimpinan Brigadir Jenderal Mallaby. Namun pendaratan sekutu ini didomplengi kepentingan Belanda secara rahasia melalui NICA untuk kembali menguasai Indonesia meskipun sudah memerdekakan dirinya.

Rakyat Indonesia marah mendengar konspirasi tersebut sehingga perlawanan terhadap Inggris dan NICA tetap dilanjutkan. Akhirnya tanggal 19 September, dengan nekad dua pemuda naik ke atas gedung dan menyobek bagian bawah bendera yang berwarna biru di Hotel Yamato (Hotel Mandarin Oriental Jl Tunjungan, dan pimpinan tentara sekutu menjadi korban, yaitu Van Pourch dan penyerbuan Markas Kempetai (Polisi Militer Jepang) pada tanggal 1 Oktober 1945. Markas Kempetai adalah tempat yang paling ditakuti oleh Arek Suroboyo, karena merupakan tempat penyiksaan bagi rakyat pribumi yang menentang Jepang. Tapi setelah Arek Suroboyo berhasil melucuti senjata Jepang, mereka berani melakukan penyerangan dengan dipimpin oleh Ketua BKR, Karesidenan abdul Wahab

Pada puncaknya adalah insiden Jembatan Merah tanggal 30 Oktober 1945 dengan terbunuhnya pimpinan sekutu wilayah Jawa Timur Brigadir Jenderal Mallaby. Pemakaman Jenderal Malaby di Krembangan (Jl Jakarta)

Inggris dan NICA melalui Mayor Jenderal Mansergh yang menggantikan Mallaby mengultimatum rakyat Indonesia untuk menyerah sampai batas akhir tanggal 10 November pagi hari. Namun di batas ultimatum tersebut rakyat Surabaya menjawabnya dengan meningkatkan perlawanan secara besar-besaran, salah satu pimpinan perlawanan tersebut adalah Sutomo, dikenal sebagai Bung Tomo (secara resmi 10 November 2008 sudah dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional ).

Perang tersebut melibatkan pasukan sekutu dengan 30.000 serdadu (26.000 didatangkan dari Divisi ke-5 dengan dilengkapi 24 tank Sherman) dan 50 pesawat tempur dan beberapa kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban ( dicatat korban dari tentara dan arek-arek Suroboyo berjumlah 16.000 jiwa sedangkan dari tentara sekutu berjumlah 2000 jiwa). Inggris menduga 3 hari Surabaya bisa ditaklukan namun kenyataannya memakan satu bulan sampai akhirnya Surabaya kembali jatuh ke tangan sekutu dan NICA

Bung Tomo (pejuang Surabaya yang menjadi tokoh peristiwa itu) menggunakan jargon-jargon dengan pekik takbirnya di RRI, para pemuda bergerak semua untuk berjihad melawan tentara sekutu yang begitu kuat sampai Jenderal Malaby tewas dalam pertempuran itu.

suasana rakyat dari berbagai elemen, seperti PMI, BKR, PETA, PRI, Pemuda Sakera dan dapur umum, profil pemuda yang sungkem pada ibunya untuk pamit berjuang saat mendengarkan pidato Bung Tomo setelah ultimatum sekutu dikeluarkan.

Perang ini menimbulkan perlawanan lain di semua kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung sampai dengan aksi membakar kota 24 Maret 1946 dan Mohammad Toha meledakkan gudang amunisi Belanda, Palagan Ambarawa, Medan, Brastagi, Bangka dll. Perlawanan ini terus berlanjut baik dengan senjata maupun dengan negosiasi para pimpinan negeri seperti perjanjian Linggajati di Kuningan, perjanjian di atas kapal Renville, perjanjian Roem-Royen sampai akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada tahun 1949.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar